Perjalanan ke Sri Gethuk Slideshow: Aenis trip to Yogyakarta, Java, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Yogyakarta slideshow. Take your travel photos and make a slideshow for free.

Perpisahan itu menyakitkan


Terdengar suara gaduh di samping bangunan ini, mulai suara meja yang di geser menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga hingga suara kaca pecah. Bintang tak tahu apa yang terjadi di luar bangunan itu. Hanya terlihat orang-orang berlalu lalang membawa kardus berkuran besar. Mereka seakan merasa terbebani dengan kardus itu. Bintang memutuskan untuk keluar dari ruangannya, ternyata temannya pergi menignggalkannya seorang, secara reflek Bintang menuju ruangannya kembali. Terdiam, dan hanya bisa membisu.

“Tok tok ”.
Terdengar suara pintu diketuk dan diiringi suara menyebut nama Bintang.
BIntang membuka pintu itu, dan terlihat sesosok perempuan dengan wajah yang bingung menatapnya. Sebut saja dya Sekar. Bintang tahu apa yang akan dia katakan padanya dan hanya ada kebisuan di antara mereka. Secara reflek Sekar mengulurkan tangannya, seakan Bintang tak mengerti apa yang Sekar lakukan. Bintang hanya bisa menggelengkan kepala, dan Sekar pun memaksa Bintang untuk menjabat tangannya yang mungil. Tak terjadi apa-apa, tak ada percakapan antara mereka. Terlihat Sekar merasa canggung untuk bilang pada Bintang tentang hal yang menyulitkan itu.

Pagi itu adalah pagi yang menyakitkan bagi mereka berdua, seakan tak ada waktu untuk bertemu. Sekar berusaha merilekskan diri, menghembuskan nafas dengan teratur di depan Bintang. Dan hanya berkata “Bintang, maafin semua salahku selama ini, aku pergi dulu”. Hanya itu saja katanya, bergetar suaranya saat mengucapkan itu, hati Bintang pun tak dapat tenang lagi dan hanya bisa membalas “Sama-sama”, dengan senyuman yang dipaksakan agar terlihat natural. Hati Bintang berdesir tak rela temannya pergi, meninggalkan bintang sendiri dengan segala kegalauan yang dya rasakan selama ini. Kenapa tak dari dulu Sekar menceritakan padaku atau tak usah cerita sama sekali agar aku tenang di tinggalnya sendiri di ruang yang mencekam ini, suara hati Bintang protes akan keprgian temannya itu. Hal yang paling menyakitkan adalah bintang orang terakhir yang tahu tentang ini semua, padahal baru kemarin bintang ditinggal pergi oleh salah satu temannya dan sekarang hal itu terulang kembali. Sungguh pedih yang dya rasa, melawan semua kegetiran ini sendirian. Melewati malam-malam yang mencekam sendiri, merasakan hembusan angin yang membuat bulu kuduk sendirian. Tak tahu Bintang akan kuat menahan ini sendirian atau Bintang harus melarikan diri dari ini semua. Semua terasa menyedihkan dan menyakitkan. Bintang akan merasakan kesepian-kesepian itu lagi di tengahnya hiruk pikuk kota. Bintang menangis dalam senyumnya, merasakan ini tidak adil baginya dan semua terasa menyakitkan.

“Tak usah kau tangisi kepergiannya, perpisahan ini mungkin adalah jawaban dari semua pertemuan dan kau akan mengerti makna setiap pertemuan. ”

Secuil cerita untuk Sahabatku


Malam semakin larut dan aku masih terhanyut dalam suasanamu malam. Ku tengok jam dinding yang terpasang di arah barat, benda itu menunjukkan bahwa aku sudah terlalu lama di ruang dengan ukuran 3x3 m. Entah dengan di dorong oleh keinginan apa aku sendiripun tidak tahu. Kucoba untuk menengok sekeliling ruangan, hanya ada aku dan teman-temanku. Tak lebih dari itu--untuk yang tak terlihat aku tidak tahu--.

Malam. Mungkin kau sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ini, setelah aku melihat jam dinding itu. Kenapa tidak kau beritahu aku??Aku marah padamu malam.Terbesit dalam pikiranku tentang sahabat-sahabat yang selama ini selalu mendengar keluh kesahku. Sudah bahagiakah mereka, apakah aku sudah memberikan kontribusiku pada mereka, apakah mereka terganggu akan hadirnya aku diantara lingkaran pertemanan yang di buat selama ini? 

Malam ini,malam dimana aku akan selalu bertanya-tanya dalam hati dan selalu menghembuskan nafas dengan terasa berat. Menilik kembali peranku pada sahabat-sahabatku. Entah kenapa pikiranku untuk malam ini tidak bisa fokus dan merasa gelisah. Merasakan bahwa akan terjadi sesuatu yang akan membuatku berfikir kembali. Entah dapat kekuatan dari apa aku bisa melihat hal itu ?
Melihat hal yang seharusnya tak pernah aku lihat dan tak ku mengerti. Aku meliaht hal yang membuatku tersadar, terhentak dengan kaget. Ingin rasanya menangis tanpa suara saat ini juga, melihat hal yang membuat hatiku teriris, tercabik tidak karuan. Aku harus mengatakan hal ini pada siapa? Aku takut sebenarnya hal ini hal yang sudah biasa di lihat oleh orang atau memang hanya aku saja yang memandang hal ini adalah hal yang kuanggap tabu. Entahlah, aku sendiripun bingung. Tapi, serasa tercabik, terkoyak-koyak hingga bagian terkecil. Tak bisa menolak hal itu, aku merasa aneh,tertekan tak tahulah apa yang akan aku katakan.

Inilah akibat dari kacamata modernisasi, semuanya belum teratur.Kawand, aku ingin bertanya padamu tentang hal  ini tapi aku takut untuk menanyakannya? Apakah aku berhak bertanya tentang hal ini ? apakah aku berhak menceritakan kejadian ini pada kalian? Sungguh menyesal aku bisa melihat hal itu, hal yang mengerikan hal yang seumur hidup tak ingin aku lihat. Aku ingin menangis tanpa suara dan tanpa seorangpun tahu bahwa aku menangisi hal yang begitu konyol.

Malam ini adalah malam yang menjadi saksi bisu terkoyaknya aku, hancurnya aku. Malam serta bintang di langit tak akan pernah memberitahu kalian akan hal ini. Biarlah hal yang sebenarnya tentang hal ini akan tersimpan rapat dalam memoriku, tersimpan dalam sebuah ruang berukuran 3x3m ini dan akan menjadi kenangan pahit dalam hidupku..

Diberdayakan oleh Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "